Wednesday, December 16, 2009

Mengapa puaskan hati yg mengkeritik?



HARI ini sahabat saya di Utusan Malaysia lancar mogok menulis. Zaini Hassan, penolong pengarah Utusan yang banyak pengalaman, ialah kolumis yang menulis seminggu sekali dalam kolumnya "Cuit." Tulisannya minggu lalu (lihat www.utusan.com) mendapat reaksi luar biasa di kalangan sebilangan pembaca. Sudah ada tiga laporan polis terhadap artikel Zaini yang menceritakan perspektif beliau ketika berada di Hyderabad untuk Forum Pengarang Sedunia kira-kira dua minggu lalu. Saya berada dengannya di Forum yang sama. Tulisan Zaini yang berjodol India di India, India di Malaysia rupa-rupanya menjadi hangat dan ditentang sebahagian pembaca keturunan India di sini. Inilah antara cabaran penulis tanahair. Ada sahaja pihak yang tidak senang dengan buah fikiran orang lain. Saya harap Zaini jangan pedulikan sangat pandangan mereka ini dan terus menulis. Jika Zaini tidak menulis, maka bergembiralah mereka yang berusaha melenyapkan suara seorang lagi penulis kita. Soalan saya pada Zaini: mengapa biarkan mereka lenyapkan suara mu yang lantang beb?

3 comments:

Anonymous said...

Sdra Zaini,

betul ckp Pahit Manis tu. buat apa u yg berhenti menulis. itu yg mereka hendak kan?

mat kg baru

Rocky's Bru said...

zaini tu mogok sekejap je kot. bagus jugak, rehatkan minda. tulis banyak sangat dan kerap sangat pun jam dibuatnya.

salam maal hijrah!

Praxis said...

We don't qualify as a democracy if the righ to criticise is absent.

But at the same time this right to criticise and the internet which was opened up Dr Mahathir has been abused by the PR to engage in a campaign of disinformation.

What logic is this only the PR can criticise but not those who criticise them?

True the merits of information of the alternate media is not easy to moderate and the management of the public discourse was made worse by Badawi who understood nothing.

The quality of the media discourse is something that has to be allowed to evolve. Those who disagree with Zaini have a right to reply or write.

The bigger threat to our democracy is Anwar's campaign of disinformation and public suits ala PAP.

Should we acquiesce?